Ngobrol Santai & Sharing Session, Amputee Generaction X Jurusan Ortotik Prostetik

Yogyakarta, 19 September 2026 bertempat di moymoy dimsum – Mengabdi kepada masyarakat bukan sekadar formalitas, melainkan panggilan untuk menghadirkan manfaat nyata. Semangat inilah yang diwujudkan oleh mahasiswa Jurusan Ortotik Prostetik, Poltekkes Kemenkes Surakarta, melalui kegiatan bertajuk “Ngobrol Santai dan Sharing Session: Stump Care dan Pola Jalan Normal” bersama komunitas Amputee Generaction. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai ruang pertemuan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian khusus bagi kelompok disabilitas amputasi.

Muhammad Syaifuddin, SST, OP., selaku Kepala Program Studi Ortotik Prostetik, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal mahasiswa sebelum terjun langsung melayani masyarakat luas. Ia mengingatkan prinsip dasar profesi ini: pelayanan harus dilakukan secara maksimal karena yang dihadapi adalah manusia seutuhnya yang bisa merasakan langsung kenyamanan atau ketidaknyamanan dari sebuah prostesis.

Pesan senada turut ditegaskan oleh Ketua Umum Amputee Generaction, Askhar Asmoro. Ia berpesan agar para mahasiswa memadukan keahlian teknis dengan empati. Melayani dengan perasaan dinilai krusial agar alat yang diciptakan mampu memberikan dampak psikologis dan fungsional yang signifikan bagi rekan-rekan amputasi.

Dari segi substansi keilmuan, penyuluhan ini membedah proses rehabilitasi berbasis komunitas menggunakan pendekatan yang sangat sistematis dan logis, dimulai dari perawatan fisik hingga evaluasi mekanis. Tahap paling awal berfokus pada perawatan stump (sisa ekstremitas). Mahasiswa mengedukasi pentingnya kebersihan kulit dan penggunaan teknik pembalutan (bandaging) atau shrinker. Secara kausalitas, langkah preventif ini sangat penting untuk mencegah pembengkakan sekaligus membentuk stump yang ideal agar prostesis dapat terpasang dengan presisi.

Ketika prostesis mulai digunakan, kelancaran mobilitas sangat bergantung pada pemahaman biomekanik terkait pola jalan normal. Proses ini secara struktural dibagi menjadi dua fase utama: fase menumpu (stance phase) dan fase mengayun (swing phase).

Sebagai langkah korektif, sesi ini juga menganalisis berbagai penyimpangan gaya berjalan (gait deviation), seperti fleksi lutut yang tidak sesuai atau dorongan lutut ke arah samping. Evaluasi ini dilakukan menggunakan cara berpikir logis dengan melacak akar masalahnya dari dua variabel utama: apakah penyimpangan tersebut bersumber dari faktor anatomis (kelemahan fisik pasien) atau dari faktor teknis (ketidaktepatan pengaturan mekanis pada prostesis itu sendiri). Pendekatan analitis ini memastikan pasien mendapatkan penanganan yang komprehensif dan tepat sasaran.

Tanya kami